AHLAN WA SAHLAN

Forum Diskusi dan Artikel Mahasiswa STAI Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

PENINJAUAN LOKASI KAMPUS STAI SAR DI BINTAN

Insya Allah, Tahun 2013 STAI SAR berstatus Negeri, Mohon do'a restunya

PENINJAUAN LOKASI KAMPUS STAI SAR DI BINTAN

Insya Allah, Tahun 2013 STAI SAR berstatus Negeri, Mohon do'a restunya

SUASANA SEBELUM ACARA PELETAKAN BATU PERTAMA STAI SAR DI CERUK IJUK, BINTAN

Dihadiri oleh seluruh elemen Mahasiswa dan Kampus STAI SAR, Menteri Agama Suryadharma Ali, Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani, Bupati Bintan Anshar Ahmad, DPRD Provinsi Ing.Iskandarsyah, Ketua STAI SAR Drs.H.Razali Jaya, dan lain-lain

SUASANA SEBELUM ACARA PELETAKAN BATU PERTAMA STAI SAR DI CERUK IJUK, BINTAN

Insya Allah, Tahun 2013 STAI SAR berstatus Negeri, Mohon do'a restunya

PENINJAUAN LOKASI KAMPUS STAI SAR DI BINTAN

Insya Allah, Tahun 2013 STAI SAR berstatus Negeri, Mohon do'a restunya

Tampilkan postingan dengan label IAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IAT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 April 2012

Kenikmatan Dunia yang Menipu


Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (TQS al-Hadid [57]: 20).

Kesenangan dunia kadang melenakan. Tak sedikit manusia yang terlena olehnya. Seolah dunia adalah segala-galanya sehingga seluruh hidupnya dicurahkan untuk meraihnya. Untuk itu, mereka pun lupa dan lalai mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Padahal, suatu saat mereka harus berpisah dengan kehidupan dunia. Segala kenikmatan dan kesenangan dunia pun berakhir. Sementara mereka tak memiliki bekal untuk akhirat. Ketika itu terjadi, yang muncul adalah penyesalan tak berujung.
Agar tiada ada penyesalan, maka kehidupan dunia harus dipahami dengan benar. Ayat ini memberikan penjelasan yang benar mengenai hakikat kehidupan dunia.

Hanya Permainan dan Perhiasan
Allah SWT berfirman: I’lamû annamâ al-hayâh al-dun-yâ la’ib wa lahw wa zînah (ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, dan perhiasan). Kandungan ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya. Dalam ayat sebelumnya diberitakan mengenai adanya dua golongan manusia. Pertama, orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Dan kedua, orang-orang yang ingkar dan mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka ini dipastikan menjadi penghuni neraka.

Kemudian dalam ayat ini dijelaskan tentang hakikat kehidupan dunia. Disebutkan bahwa kehidupan dunia tak lebih sebagai la’ib[un] wa lahw[un] wa zînat[un] (permainan, sesuatu yang melalaikan, dan perhiasan).

Menurut al-Biqai, al-la’ib berarti ta’ib lâ tsamrah lahu (keletihan yang tidak memberikan hasil). Sesuatu yang batil seperti mainan anak-anak. Al-Alusi juga mengatakan, ungkapan tersebut untuk menggambarkan bahwa dunia merupakan sesuatu yang remeh. Sesuatu yang tidak akan membuat tertarik orang-orang berakal, apalagi merasa tenteram. Sebab, dunia adalah permainan yang tidak menghasilkan sesuatu kecuali keletihan.

Adapun al-lahw, menurut al-Biqa’i, adalah sesuatu yang menyenangkan manusia, hingga dapat melalaikan dan memalingkan dari perkara yang berguna, kemudian berakhir seperti permainan anak-anak muda.

Sedangkan zînah adalah sesuatu yang menyenangkan mata dan jiwa seperti halnya perhiasan perempuan. Menurut Abdurrahman al-Sa’di, perhiasan tersebut menghiasi pakaian, makanan, minuman, kendaraan, tempat tinggal, istana, dan kehormatan. Allah SWT berfirman: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang (TQS Ali Imran [3]: 14).

Di samping itu juga: wa tafâkhur baynakum (dan bermegah-megah antara kamu). Kata al-tafâkhur berarti al-takabbur, yakni saling berlomba-lomba, memamerkan, dan membanggakan diri dengan harta, nasab, kemuliaan, dan kedudukan mereka. Rasulullah SAW bersabda: Empat perkara pada umatku yang termasuk perkara jahiliyyah yang tidak mereka tinggalkan adalah berbangga-bangga dalam ahsâb (kemuliaan leluhur)(HR Muslim dan Ahmad).

Disebutkan pula: wa takâtsur fî al-amwâl wa al-awlâd (serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak). Artinya, masing-masing orang menginginkan lebih banyak daripada yang lain dalam harta dan anak-anak. Demikian Abdurrahman al-Sa’di dalam tafsirnya.

Menurut sebagian mufassir, sebagaimana dikutip Ibnu al-Jauzi dalam Zâd al-Masîr, apa yang disebutkan dalam ayat ini adalah keadaan orang kafir terhadap kehidupan dunia.

Akan Lenyap Tak Bersisa
Setelah tentang kehidupan dunia, kemudian diberitakan bahwa semua kesenangan dan kebanggaan mereka itu akan lenyap tak bersisa. Realitas ini digambarkan dalam kalimat selanjutnya: Kamatsali ghayts a’jaba al-kuffâr nabâtuhu (seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani). Menurut al-Razi, kata al-ghayts berarti al-mathar (hujan). Ini sebagaimana disebutkan dalam QS al-Kahfi [18]: 45. Sedangkan yang dimaksud dengan al-kuffâr di sini, ada dua pendapat. Pertama, bermakna al-zurrâ’ (petani). Para petani itu terpesona dengan tanaman-tanaman yang tumbuh subur akibat hujan lebat. Menurut al-Azahari, orang Arab menyebut petani sebagai al-kâfir karena menutup benih yang ditanam dalam tanah. Kedua, orang-orang yang ingkar kepada Allah SWT. Mereka jauh lebih terpesona terhadap keindahan dunia dan isinya dibandingkan kaum Mukmin. Penyebabnya, mereka tidak melihat kebahagiaan lain selain kehidupan dunia.

Tanaman yang terlihat subur, hijau, dan memesona tersebut kemudian berubah. Allah SWT berfirman: tsumma yahîju fatarâhu mushfarr[an] (kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning). Katayahîju berarti yajiffu wa yaybasu (kering) setelah berwarna.

Sedangkan fatarâhu mushfarr[an] menggambarkan bahwa tanaman tersebut telah berubah; yang sebelumnya hijau dan segar menjadi kuning dan layu. Demikian penjelasan al-Syaukani dalam tafsirnya Fat-h al-Qadîr.

Bahkan lebih dari itu: tsumma yakûnu khuthâm[an] (kemudian menjadi hancur). Al-Syaukani memaknai frase ini sebagai futât[an] hasyîm[an] mutakassir[an] mutahathim[an] (hancur,  remuk, dan berkeping-keping).
Dengan demikian, kehidupan dunia diumpamakan seperti tanaman yang memesona orang-orang yang melihatnya karena warnanya yang hijau dan amat menyenangkan. Namun tak lama kemudian hancur seolah-olah tidak pernah ada.

Kehidupan Akhirat
Setelah diingatkan tentang hakikat kehidupan dunia, kemudian dijelaskan mengenai keadaan di akhirat. Di akhirat kelak hanya ada dua keadaan. Pertama, azab yang pedih. Allah SWT berfirman: Wa fî al-âkhirah ‘adzâb syadîd (dan di akhirat [nanti] ada adzab yang keras). Azab yang pedih tersebut ditimpakan kepada orang-orang yang mengingkari Allah SWT dan ayat-ayat-Nya. Juga orang-orang yang tertipu dengan gemerlap dunia dan melupakan akhirat.

Dan kedua, ampunan dan ridha-Nya. Allah SWT berfirman: wa maghafirah minal-Lâh wa ridhwân (dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya). Ampunan dan ridha Allah SWT itu diberikan kepada para walinya danahl al-thâ’atihi (pelaku ketaatan kepada-Nya).  Hal ini juga dtegaskan dalam banyak ayat, seperti QS al-Mulk [67]: 12.

Di akhir ayat ini kembali ditegaskan: wa mâ al-hayâh al-dun-yâ illâ matâ’ al-ghurûr (dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu). Dalam kehidupan kehidupan dunia memang terdapat kesenangan dan kenikmatan. Namun semua itu merupakan ujian dan cobaan bagi manusia. Jika manusia terpedaya dengan ujian dan cobaan tersebut; habisan-habisan mengejarnya hingga melupakan akhirat, maka dia telah tertipu. Di akhirat mendapatkan siksa yang pedih.
Namun sebaliknya, jika kenikmatan tersebut digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan pahala dan ridha-Nya, maka dia telah sukses menghadapi cobaan tersebut. Said bin Jubair berkata, “Dunia merupakan kesenangan yan menipu apabila melalaikan kamu dari mencari ke akhirat. Ada pun jika mengajakmu kepada mencari ridha Allah dan akhirat, maka itu sebaik-baik wasilah (sarana).”
Inilah pandangan yang benar tentang hakikat kehidupan. Jangan sampai menjadi orang yang tertipu dengan gemerlap dunia, melupakan akhirat!
Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.[]

Perkataan yang Paling Baik


Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (TQS Fushilat [41]: 33).
Dakwah termasuk amal yang paling utama. Dengan dakwah, Islam bisa tersebar ke seluruh dunia. Dengan dakwah pula, Islam bisa diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga dapat hidup sepanjang masa. Islam juga bisa tegak secara kaffah di tengah kehidupan lantaran aktivitas dakwah. Banyak sekali ayat maupun hadits yang memerintahkan kaum Muslim berdakwah. Pahala yang disediakan bagi pelakunya juga amat besar dan berkelanjutan. Ayat ini adalah salah satunya yang menjelaskan tentang keutamaan dakwah.

Perkataan Paling Baik
Allah Swt berfirman: Waman ahsanu qawl[an] min man da’â ilâl-Lâh (dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah). Secara dhahir, sebagaimana dijelaskan al-Alusi, seruan yang dimaksud ayat ini adalah dengan lisan. Sedangkan ilâl-Lâh (kepada Allah SWT) di sini adalah mengajak kepada tauhid Allah dan taat kepada-Nya. Demikian al-Syaukani dan al-Jazairi dalam tafsir mereka. Tidak jauh berbeda, Abu Hayyan al-Andalusi mengatakan bahwa al-du’â` ilâl-Lâh adalah dengan menyeru kepada Islam, jihad melawan kaum kafir, dan menghentikan orang-orang zalim. Ini dari sisi perkara yang diserukan.
Dari sisi pelaku atau orang yang menyerukannya, ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengannya adalah Rasulullah SAW. Ada pula yang menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan muadzin. Namun jika dilihat lafadznya, kata man dalam ayat ini adalah ism al- istifhâm (kata tanya). Kata tersebut memberikan makna umum. Karena bermakna umum, maka selama tidak ada dalil yang mengkhususkan untuk sesuatu, tetap berlaku umum. Oleh karena itu, kebanyakan mufassir, seperti al-Hasan, Mujahid, Ibnu Katsir, al-Syaukani, al-Alusi, dan lain-lain mememilih kesimpulan bahwa ayat ini berlaku umum yang mencakup semua orang yang menyeru kepada Allah SWT.
Sebagaimana telah dijelaskan, kata man dalam ayat ini adalah ism al-istifhâm Akan tetapi, sebagaimana dijelaskan al-Alusi, istifhâm tersebut bermakna al-nafiyy (menegasikan). Artinya, tidak ada perkataan dari seorang pun yang lebih baik daripada orang yang menyeru kepada Allah. Menurut Fakhruddin al-Razi, ini menunjukkan bahwa dakwah kepada Allah lebih baik daripada semua yang lainnya.
Telah maklum bahwa yang dihasilkan oleh lisan adalah ucapan atau perkataan. Sebagaimana anggota badan lainnya, apa yang dilakukan oleh lisan tersebut harus terikat dan sejalan dengan hukum syara’. Kaum Muslim diperintahkan hanya berkata tentang Islam atau setidaknya dibenarkan oleh Islam. Jika itu tidak bisa dilakukan, maka diperintahkan untuk diam. Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia berkata khayr atau diam (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan al-Tirmudzi dari Abu Hurairah). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fat-h al-Barri menyatakan bahwa termasuk dalam cakupan ak-khayradalah semua ucapan yang dituntut, baik yang difardhukan mapun yang disunnahkan. Selain itu adalah syarratau apa yang mengakibatkan kepada keburukan, maka diperintahkan untuk diam.
Perkataan yang berisi ajakan dakwah kepada Allah dan agama-Nya jelas paling baik. Sebab, ucapan tersebut tidak hanya menunjukkan kesempurnaan dirinya, namun juga dapat menyempurnakan orang lain. Pahala yang diberikan kepada orang yang melakukan aktivitas ini pun sangat besar. Rasulullah SAW bersabda: Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan al-Nasa’i). Ketika dakwahnya diterima, pahala yang diberikan kepadanya pun terus mengalir. Rasulullah SAW juga bersabda: Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan, maka dia mendapat semisal pahala pelakunya (HR Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan Ahmad).
Bahkan dakwah yang disampaikan kepada penguasa yang zalim disebut Nabi saw sebagai afdhal al-jihâd,jihad yang paling utama (lihat HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Apabila gugur dibunuh karena oleh penguasa yang dinasihatinya, dinyatakan sebagai sayyid al-syuhadâ`, pemimpin para syuhada` (lihat HR al-Hakim dam al-Mustadrak). Itu semua menunjukkan bahwa dakwah kepada Islam merupakan perkataan yang paling baik.
Mempraktekkan Perkataannya
Di samping menyampaikan dakwah kepada Allah, mereka juga mempraktikkan apa yang didakwahkan. Allah SWT berfirman: wa ‘amila shâlih[an] (mengerjakan amal yang shalih). Dijelaskan al-Syaukani, mengerjakan amal shalih adalah menunaikan apa yang diwajibkan Allah dan menjauhi apa yang diharamkan atasnya. Tak jauh berbeda, menurut Fakhruddin al-Razi, amal shalih meliputi ‘amal al-qulûb (aktivitas hati), yakni ma’rifah; dan ‘amal al-jawârih (aktivitas dhahir, anggota badan), yakni seluruh ketaatan. Pendek kata, sebuah amal dapat dikategorikan sebagai amal shalih manakala sejalan dengan ketentuan syara’. Apabila bertentangan dengan syara’, amal tersebut merupakan sebuah kemunkaran dan kemaksiatan; dan sudah pasti tidak bisa dikategorikan sebagai amal shalih.
Di samping itu, amal tersebut harus dilandasi oleh ikhlas karena Allah SWT dan semata hanya mengharapkan ridha kepada-Nya. Perhatikan amal yang dilandasi sikap ikhlas dalam beberapa firman-Nya (lihat QS al-Insan [76]: 9-10, al-Lail [92]: 19-20).
Penyebutan amal shalih dalam ayat ini menunjukkan bahwa orang yang menyampaikan dakwah kepada Islam harus mengamalkan apa yang disampaikan. Perkataan dengan perbuatannya sejalan. Bahkan, dirinyalah orang yang paling taat terhadap perkara yang didakwahkan.
Allah SWT mencela orang yang hanya bisa memerintahkan kebaikan untuk orang lain namun justru melupakan dirinya. Allah Swt berfirman: Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (TQS al-Baqarah [22]: 44). Juga dalam firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan(TQS al-Shaff [61]: 2-3).
Menunjukkan Jati dirinya
Setelah itu Allah berfirman: wa qâla innanî min al-Muslimîn (dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri). Imam al-Thabari menafsirkan ayat ini dengan ungkapan: Dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang yang tunduk kepada Allah dengan ketaatan, merendahkan diri  kepada-Nya dengan penghambaan, dan berserah diri kepadanya dengan mengimani keesaan-Nya.”
Menurut al-Nasafi, ini menunjukkan kebanggaan mereka terhadap Islam atau kepercayaan terhadapnya. Selain itu, menurut al-Baidhawi, juga menjadikan Islam sebagai agama dan madzhabnya. Ini seperti ungkapan: Ini adalah pendapat Fulan untuk madzhabku. Atau ringkasnya, sebagaimana disimpulkan al-Razi ini adalah ikrar dengan lisan.
Inilah perkataan terbaik. Perkataan yang mengajak kepada Islam, disampaikan oleh orang yang taat terhadap syariah, dan tanpa ragu bahkan bangga menunjukkan jati dirinya  sebagai kaum Muslim. Siapa pun yang ingin mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt, derajat dan martabat yang tinggi di sisi-Nya, dan kebahagiaan hakiki, maka tiga sifat ini harus dimiliki. Semoga kita termasuk di dalamnya. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.